Ketika Saya Membayangkan Proses Kelahiran Saya

October 20, 2007

Sebut saja nama saya Raden Mas Bodoh,

dan untuk lebih kerennya (maksud hati untuk meningkatkan harkat dan martabat saya sebagai manusia) maka panggil saja saya Rambo.

Seperti kebanyakan manusia, saya lahir melalui rahim ibunda saya… Mevrouw Marrianne (atawa di Jawa ibunda lebih sering dipanggil Nyai Maryani, jadi curiga…yang mana nama yang aseli). Sebodoh-bodohnya saya masih juga sempat mengenyam pendidikan di bangku sekolah… setidaknya itu yang selalu dikatakan Mama pada saya ketika menjelaskan pendidikan yang pernah saya jalani tapi tak pernah saya ingat.

“Oh Sayangku, Rambuu… percayalah pada Mama, kamu ini anak Mevrouw Marrianne, dan anak Mama adalah anak yang luar biasa…maka dari itu kamu pantas mendapatkan pendidikan di sekolah yang terbaik di negeri ini… Sekolah Luar Biasa!”

Sekolah Luar Biasa…SLB maksudnya? Haduuuhh… dasar Keluarga Bodoh! Eniwei, saya kemarin baru membaca sebuah artikel yang membahas tentang kelahiran manusia, bahwasanya seorang bayi itu lahir dalam keadaan suci dari rahim ibunya, ohh… betapa bahagianya hati ini mengingat masa kelahiran diri ini yang begitu suci…

“Ohh, sucikah diri ini Mama ketika ananda masih bayi belia?”

“Tentu saja Rambuu sayang, Tuhan menciptakan kamu dalam keadaan suci.. kamu dulu tentu belum menjadi sekotor sekarang ini sayang, belum umbelen seperti saat ini, Apa kamu tak ingat, bahkan sampai umur tiga tahun kamu begitu senang dipanggil dengan nama Suci?”

Anjrot.

Kemudian pemikiran tentang kelahiran ini menjadi teracuni oleh pemahaman tidak cerdas yang disampaikan oleh teman-teman saya:

Teman 1:

“Mbo, kata ibuku…ibu kamu pernah cerita waktu acara PKK, katanya kamu itu lahir bukan dari rahim ibu kamu. Kamu itu cuma hadiah Chiki….chiki…chiki..chiki..”(baca dengan efek suara menggema).

Teman 2:

“Hmmm…ada kemungkinan kamu tidak lahir dari rahim ibu kamu, Mbo.. Bisa jadi kamu cuma hasil download lewat internet.”

Benar-benar pemikiran yang tidak cerdas. Saya tak percaya dengan itu semua (prekk!) dan demi mengetahui kebenarannya, saya mencari bukti keterangan dari pihak yang paling bisa dipercaya, yaitu ibunda saya sendiri..yang melahirkan saya. Berikut ini hasil interview saya dengan Mama:

“Oh Mama Marrianne, betapa tega sahabatku mengatakan bahwa aku tak pernah lahir dari rahimmu Mama, mereka bilang aku cuma hadiah jajanan snek!”

Mama terkejut dan tampak murka saat itu.

“Oh Mijn God! Laknat kata-kata mereka sayangku Rambuu…tentu saja kamu lahir dari rahim Mama dan dengan proses yang lebih istimewa dibandingkan kelahiran teman-temanmu itu…”

Jawaban Mama benar-benar menyejukkan hati sekaligus menimbulkan tanya (geer sekaligus perasaan saya jadi nggak enak). “Apa maksud Mama dengan keistimewaan itu?”

“Oh My Dear, kamu istimewa Rambuu…Proses melahirkan kamu memakan waktu sembilan tahun. Kamu berbeda dengan bayi lain…kamu lahir per bagian. Tahun pertama Mama berhasil melahirkan kepala kamu, lalu bagian-bagian tubuh kamu yang lain Mama lahirkan berturut-turut selama delapan tahun berikutnya. Sembilan tahun sampai semua bagian tubuh kamu lengkap Mama simpan semuanya di kulkas.”

Mama menghela nafas panjang..menatapku dalam. “Papa kamu menjahit bagian-bagian tubuh kamu itu jadi satu. Lalu kamu hidup, meski ada satu bagian yang hilang… kesalahan kecil yang dilakukan Papa kamu waktu itu.”

Anjrot.

“Rambuu anakku sayang…tiit…tiiit (sensor) kamu bukan tiiiit aseli, Papa menggantinya dengan botol Aqua Mini, tapi cukup fotogenik buat dilihat bukan…masih bisa berfungsi dengan baik sampai sekarang kamu berumur 21 tahun anakku..”

Anjrot.Anjrot.Anjrot.

“Lalu kemana tiiiiiit ananda itu, Wahai Mama?” Mama menatapku semakin dalam, matanya berlinangan airmata, tubuhku direngkuhnya erat dalam pelukan.

“Maafkan Mama, Rambuu…Papamu telah memakannya tanpa sengaja, Mama salah ambil di kulkas ketika Papa minta dibuatkan Oseng-oseng Sosis saat sarapan dulu…Ohhh, Maafkan Mama dan Papa sayangku…”

Tanpa sadar saya mulai menangis, pandangan saya kosong menatap nun jauh keluar jendela rumah..dan langit memerah. Matahari terbenam, senja menutup pilu hari itu.

Anjrot lagi.